Islamophobia, apa itu?
Oleh : Ijud
Jumat
(15/03), diawal kepengurusan baru SKI FISIP SAE Universitas Airlangga,
Departemen Syiar dan Keilmuan (Syirkel) mengadakan launcing acara “General Life Discussion” bertempat di
kantin FISIP Gedung A. Dengan pembicara Bustomi S.Hub.Int (Motivator dan
Pendiri Aku Bisa Foundation) atau yang
akrab disapa Mas Bustomi Menggugat. Diskusi tersebut cukup ramai karena tidak
seperti biasanya yang selalu bertempat di mushola ataupun di masjid tetapi
acara ini diadakan ditempat yang biasa mahasiswa FISIP makan-makan atau sekedar
nongkrong. Pesertanya tidak hanya anggota SKI FISIP tetapi pengunjung kantin
dan juga pemilik menyimak diskusi tersebut. Dalam diskusi ini mengangkat tema
tentang Islamophobia. Apa itu Islamophobia?
Sebuah ideologi atau hegemoni? Sebuah revolusi islam atau problem agamakah?
Bukan itu yang dimaksud dengan Islamophobia.
Islamophobia merupakan
ketakutan yang berlebihan agama non muslim terhadap agama islam dan orang
islam. Ketakutan inio ditunjukkan dengan adanya peristiwa pembakaran Al-Qur’an
di Florida, Halis Tami (sikap benci
terhadap umat islam) di India, Macan
Tamil (pembantaian umat Hindu) di Srilangka. Istilah Islamophobia sendiri muncul pada tahun 1996 di Britain, bertepatan
dengan isu muslim di Britain pada waktu itu. Tetapi istilah tersebut mulai
memanas pasca peristiwa 11 September 2001 atau yang lebih dikenal dengan
“Peristiwa 9/11”.
Serangan
11 September (disebut September 11, September 11th atau 9/11) adalah
serangkaian empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa
target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001. Pada pagi
itu, 19 pembajak dari kelompok militan Islam, al-Qaeda, membajak empat pesawat
jet penumpang. Para pembajak sengaja menabrakkan dua pesawat ke Menara Kembar
World Trade Center di New York City; kedua menara runtuh dalam kurun waktu dua
jam. Pembajak juga menabrakkan pesawat ketiga ke Pentagon di Arlington,
Virginia. Ketika penumpang berusaha mengambil alih pesawat keempat, United Airlines
Penerbangan 93, pesawat ini jatuh di lapangan dekat Shanksville, Pennsylvania
dan gagal mencapai target aslinya di Washington, D.C. Menurut laporan tim
investigasi 911, sekitar 3.000 jiwa tewas dalam serangan ini (Wikipedia).
Islamophobia
sendiri semakin marak terjadi di Negara-Negara Barat, contohnya di Amerika
tidak adanya ada libur pada Hari Raya Idul Fitri dan di Prancis, pelarangan
memakai cadar. Dan pasca “Peristiwa 9/11” juga, Indonesia, negara berpenduduk
mayoritas muslim mengalami ketakutan. Teroris yangs sering terjadi di Indonesia
menjadikan masyarakat non –muslim yang ada di Indonesia maupun dunia phobia terhadap agama islam maupun
penganut agama islam. Karena setiap ada peristiwa teroris secara langsung umat
islam selalu menjadi kambing hitam dan memiliki tanggapan bahwa orang islam lah
yang melakukannya, padahal itu tidak selalu benar.
Islamophobia
sendiri ada tiga macam yaitu, Dominan of
Islamophobia, Non dominan of Islamophobia, dan Antoniusses of Islamophobia.
Bustomi menggugat mengatakan bahwa orang yang konsen dakwah yang biasanya tidak
berani tampil berdakwah didepan kelas atau tempat strategis lainnya, seperti
kantin atau warung kopi itu merupakan salah satu dari Islamophobia itu sendiri. Dan contoh lainnya adalah penerapan
lebel/lebelling teroris kepada orang islam yang mempunyai jenggot panjang atau
tebal.
Memang
tidak kita sadari mungkin diri kita sendiri pernah mengalami ataupun secara
tidak sadar pernah mendorong terjadinya Islamophobia tersebut. Tetapi sebagai
seorang mahasiswa muslim, kita harus peka terhadap peristiwa ini, jangan sampai
orang islam sendiri phobia terhadap
saudara seagamanya dan bahkan jangan pula kita yang phobia terhadap agama kita sendiri dan saudara seagama, agama
islam.
Komentar
Posting Komentar