Agama Islam di Negeri Komunis (Rusia), Liberalis (AS), dan Demokratis (Indonesia)

Judul   : Agama Islam di Negeri Komunis (Rusia), Liberalis (AS), dan Demokratis                           (Indonesia)
Topik   : Variasi Agama Islam di Negara-Negara yang Berbeda Ideologi
Nama   : Ijud
            NIM    : 071211733044
            Email   : ijudm@yahoo.com
            Mahasiswa S1 Antropologi,  FISIP Universitas Airlangga

Abstrak
            Agama Islam di dunia semakin banyak penganutnya. Bisa dilihat dari sejarah Islam yang memasuki Amerika Serikat, “the first two decades of the twentieth century saw the immigration ofe some 60.000 Muslim from Anatolia, The Levant, Eastern Europe, and South Asia”. Ini menandakan semakin tersebarnya Muslim di berbagai negara sehingga banyak yang merantau juga ke negara lain. Agama Islam di berbagai negara di lima benua mengalami kebangkitan  yang ditandai dengan gairah Islam di Rusia terus mengalami peningkatan. Seperti yang penulis baca dalam berita di internet yang memberitakan “Semua masjid hampir dipastikan tidak mampu memuat jemaah untuk shalat jumat, tarawih hingga Idul Fitri. Ini terbukti ketika dalam suatu pelaksanaan hari raya Idul Fitri di sebuah Masjid Agung Moskwa, jemaahnya penuh sampai dekat stasiun metro yang jika ditempuh dengan berjalan membutuhkan waktu 10 menit. Ini hampir mirip dengan padatnya jemaah di Masjidil Haram ketika musim haji”. Bahkan menurut United States Department of State, terdapat sekitar 21-28 juta jumlah penduduk Muslim di Rusia, sekurang-kurangnya 15-20 persen jumlah penduduk negara ini dan membentukkan agama minoritas yang terbesar. Begitu juga perkembangan agama Islam di negara lainnya seperti Amerika Serikat yang terus bertambah karena mengalami arus imigrasi dari negara-negara lain.
Banyaknya penganut agama Islam di berbagai negara yang memiliki ideologi berbeda sediktinya akan memengaruhi budaya-budaya yang berkaitan dengan ritual keagamaannya. Karena ciri khas dari masing-masing ideologi suatu bangsa memberikan pengaturan terhadap rakyatnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga memengaruhi budaya religi yang dianut masyarakatnya.
Dalam pengaruhnya terhdapa kehidupan bermasyarakatsampai pada sendi-sendi hubungannya dengan Tuhan, sejauh mana Ideologi bisa memengaruhi agama Islam tentunya terhadap kelompok yang menganutnya. Adakah perbedaan yang menonjol pada setiap ritual atau kebiasaan penganut agama Islam di dunia yang memiliki Ideologi berbeda? Ataukah sebaliknya Ideologi itu sendiri yang dipengaruhi oleh agama? Atau tidak ada kaitannya antara ideologi dan agama?
Keyword: Islam di Rusia, Islam di Indonesia, Islam di Amerika, Islam dan Ideologi, Pengaruh Ideologi
Pendahuluan
            Salah satu acara di televisi swasta, sebut saja Khazanah Islam, yang menceritakan tentang agama Islam di Meksiko dan Argentina memperlihatkan beragamnya kegiatan yang dilakukan oleh pemeluk agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam berpakaian bagi Muslimah yang dilpengaruhi oleh kebudayaan setempat. Keberagaman tersebut dipengaruhi oleh keadaan Ideologi yang berlaku di negara tersebut. berbeda dengan di Indonesia yang merupakan Negara demokratis, kedaulatan berada ditangan rakyat dan didorong Indonesia sebagai negara yang mayoritas Muslim, artinya rakyat bebas memilih agama yang ia inginkan dan tidak terpaksakan oleh Ideologi bangsa dimana ia tinggal. Islam di Meksiko yang minoritas dan dan berada di negara yang bukan berideologi demokratis, yang dipengaruhi oleh Amerika Serrikat yaitu Liberalis “In a sense all of America is liberalism. "The great advantage of the American," (http://www.writing.upenn.edu/~afilreis/50s/schleslib.html yang diakses tanggal 16 Oktober 2013) maka pemeluk Islam disana seolah-olah ditekan oleh keadaan lingkungan negara dan kebudayaan setempat sehingga keadaan tersebut memengaruhi kebiasaan dalam menjalankan agama yang dianutnya.
            Dari apa yang diceritakan dalam acara televisi tersebut penulis berpikir. Apakah selain suatu kebudayaan, ideologi suatu bangsa itu memengaruhi budaya pemeluk Islam di negara tertentu? Alasan mengapa penulis menyusun karya tulis ini dengan topik “Variasi Agama Islam di negara-negara yang berbeda Ideologi”. Topik ini lebih menekankan pada kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan ritualnya seorang pemeluk Agama Islam di negara yang berbeda Ideologi. Maka dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis berusaha untuk membahas perbedaan kebiasaan pemeluk agama Islam di negara yang berbeda Ideologi.
            Islam dan Ideologi: Pengaruh Ideologi Terhadap Agama, mengundang banyak sangkaan terhadap perbedaan kebiasaan pemeluk agama Islam di negara yang berbeda Ideologi bahkan bisa terjadi dalam satu negara juga yang notabene mempunyai ideologi yang sama, termasuk di Indonesia. Contohnya: adanya perang sesama agama Islam di Madura antara kelompok Sunni dan Syiah. Masyarakat pemeluk agama Islam di Indonesia yang ideologi bangsanya demokoratis, yang  kedaulatannya berada ditangan rakyat,  memiliki kebebasan, berbeda dengan pemeluk agama Islam di Rusia yang Ideologi bangsanya Komunis. Kebiasaan ritual pemeluk Islam di Indonesia mempunyai kebebasan melakukan kegiatan hari besarnya dengan keterbukaan tanpa ada ketakutan dilarang oleh pemerintah. Sehingga ketika penganut agama Islam di Indonesia melihat kebiasaan ibadah pemeluk agama Islam di negara Komunis akan merasa aneh karena timbul pemikiran bagi Muslim Indonesia terhadap perbedaan itu. Misalnya perbedaan dalam beribdaha di negara lain yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melihat Muslimah dan Muslim yang pergaulannya sangat ketat berbeda dengan sebagian Muslim di Indonesia pergaulannya sangat bebas bahkan seolah-olah pergaulan Muslim dan Muslimah itu tidak ada batasnya.
            Dalam karya tulis ilmiah yang penulis susun ini, penulis berusaha untuk membatasi topik yang dibahas terkait seberapa besar pengaruh ideologi bangsa terhadap kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam ritual keagamaan ataupun dalam berpakaian, di negara-negara yang mempunyai ideologi berbeda. Dan disini dibatasi hanya membahas tiga macam Ideologi saja karena mengingat rujukan pustaka yang masih sulit ditemukan. Tetapi tidak bisa disangkalkan juga kebudayaan juga akan selalu dibahas karena memiliki pengaruh dalam kebiasaan pemeluk Isla ditempat yang berbeda, yang tentunya pasti mempunyai kebudayaan yang berbeda pula.
            Tulisan ini hendak membahas apa yang dimaksud dengan Ideologi Demokratis, Liberalis, dan Komunis. Kemudian variasi kebiasaan pemeluk agama Islam di negara Indonesia, Rusia dan Amerika Serikat yang mempunyai ideologi berbeda, dan perbedaan yang terdapat pada keadaan kehidupan sehari-hari pemeluk agama Islam di negara-negara tersebut. Kemudian diuraikan juga sejauh mana ideologi suatu bangsa memengaruhi kebiasaan pada ritual keagamaan dan pakaian pemeluk agama Islam di negara yang berbeda tersebut.
            Tulisan ini mempunyai manfaat dan tujuan, manfaatnya agar semua umat Muslim yang ada diseluruh penjuru dunia saling memberikan toleransi dan saling mendukung karena bagaimana pun tantangan disetiap negara berbeda. Dan sesama umat Muslim saling mengahargai kebiasaannya karena kebudayaan yang berbeda. Serta tujuan dari penulisan ini dikhususkan untuk pemeluk agama Islam di seluruh dunia, untuk mengetahui bahwa setiap tempat dengan kebudayaan yang berbeda-beda maka akan memengaruhi kebiasaan, baik itu dalam ritual keagamaan maupun dalam cara berpakaian, bagi pemeluk agama Islam tersebut.
Macam-macam Ideologi Bangsa
            Didunia, terdapat Ideologi-ideologi bangsa yang beragam, tentunya setiap negara ada yang menganut ideologi yang berbeda dengan yang lainnya. Ada juga beberapa negara yang menganut ideologi sama dengan negara lainnya, misalnya China, Rusia, Kamboja yang menganut ideologi bangsa sama yaitu, Ideologi Komunis. Dalam tulisan ini penulis tidak akan membahas semua Ideologi bangsa yang ada didunia, tetapi akan memaparkan tiga Ideologi. Karena cukup sulitnya mencari literasi sehingga mendorong penulis untuk membuat tulisan tentang tiga ideologi saja.
            Pertama, Ideologi Demokrasi. Demokrasi mendasarkan pemikirannya bahwa Kekuasaan di Tangan Rakyat (http://blowoutcrew.blogspot.com/2009/04/macam-macam-ideologi-di-dunia.html). Demokrasi juga berarti bahwa Kekuasaan dari Rakyat, oleh Rakyat dan untuk Rakyat. Dalam demokrasi ada campur tangan rakyat secara langsung maupun tidak langsung untuk memengaruhi kebijakan pemerintahan, yaitu dengan jalan musyawarah di setiap akan mengambil keputusan bersama. Dr. M. Kamil Lailah dalam http://blowoutcrew.blogspot.com menetapkan tiga macam justifikasi ilmiah dari Prinsip Demokrasi, yaitu: a). Ditilik dari pangkal tolak dan perimbangan yang benar, bahwa sistem ini dimaksudkan untuk kepentingan sosial, bukan untuk kepentingan individu. b). Tidak membenarkan berbagai macam teori yang bersebrangan dengan prinsip demokrasi. c). Opini Umum dan Pengaruhnya.
            Landasan pemikiran dari Demokrasi adalah bahwa rakyat membuat ketetapan hukum bagi dirinya sendiri dengan perantara DPR, yang kemudian dilaksanakan oleh pihak pemerintah atau eksekutif. Sistem Demokrasi ini memiliki faktor positif dalam pelaksanaannya karena pada sistem ini rakyat mempunyai pengaruh besar dalam menentukan kemana suatu negara akan dibawa. Tetapi ada hal negatif yang mewarnai Sistem Demokrasi ini yaitu negara akan rancu dalam setiap menentukan keputusan karena banyak ide dan paham yang muncul.
            Kedua, Ideologi Liberal. Liberalisme menitikberatkan pemikirannya pada kebebasan individu. Dalam http://blowoutcrew.blogspot.com/2009/04/macam-macam-ideologi-di-dunia.html disebutkan bahwa sistem ini menjadikan HAM sebagai pedoman utama dalam kehidupan karena berlandaskan pada pemikiran bahwa manusia pada hakikatnya adalah baik jadi menurut sistem ini tidak harus adanya pola-poIa peraturan yang ketat dan bersifat memaksa terhadapnya. Individu dibiarkan dalam kebebasan sejauh ia tidak melanggar peraturan yang mendasar seperti HAM dan tidak mengganggu / merugikan banyak orang. Paham ini menganut Sistem Pemerintahan Demokrasi, tentunya ada kebebasan yang menjadi milik siapa saja tanpa ada aturan yang mengikat. Tetapi ini akan berimplikasi pada tidak adanya kehidupan bermasyarakat secara sosial karena pada sistem ini individu dibiarkan pada kemauan sendiri tanpa aturan yang mengikat satu sama lain dengan individu-individu lain.
            Ketiga, Ideologi Komunis. Ideologi Komunis identik dengan Sistem Pemerintahannya yang Diktator, Totaliter dan Otoriter tetapi dibalik semua itu pemikiran ideologi Komunis berusaha untuk menghapus perbedaan dalam kelas-kelas di masyarakat. Jadi dalam ideologi ini tidak ada perbedaan antar golongan, ras dan sebagainya semuanya sama dalam satu derajat. Tetapi seringkali keadaan negative muncul seperti kekrasan yang timbul akibat dasar pemikirannya, kemauan masyarakat yang tidak bisa disalurkan sebagaimana kebebasan pada Sistem Demokrasi. Dalam http://blowoutcrew.blogspot.com/2009/04/macam-macam-ideologi-di-dunia.html dijelaskan  landasan pemikiran Liberalisme, yaitu: a). Penolakan situasi dan kondisi masa lampau,baik secara tegas maupun tidak. b). Analisa yang cenderung negatif terhadap situasi dan kondisi yang ada. c). Berisi resep perbaikan untuk masa depan. d). Rencana-rencana tindakan jangka pendek yang memungkinkan terwujudnya tujuan-tujuan yang berbeda-beda.

Hubungan Ideologi dengan Religi / Keyakinan
            Ideologi sebagai pedoman hidup manusia yang bersifat mendasar mempunyai kaitan dengan keyakinan, karena keyakinan sendiri berawal dari alam, sama halnya dengan ideologi yang berawal dari dalam juga. Keduanya merupakan sebuah pemikiran seseorang yang sudah menjadi prinsipnya untuk hidup dan menjadikannya sebagai pegangan hidup. Dalam sebuah tulisan ada yang menyebutkan adanya kesalahan epistemologis yang serius dikalangan umat Islam tentang kehidupannya. Penulis berpendapat ini hanya sebuah arus budaya dan dinamisme budaya yang terjadi karena adanya putaran jaman kearah yang lebih modern sehingga masih bisa dikatakan tidak terlalu bahaya dan beresiko pada sendi-sendi kehidupan Islam.

Ideologi dan Islam:
Islam di Negara Demokratis : Islam di Indonesia
            Indonesia sebagai  negara yang penduduknya mayoritas Muslim mempunyai keunikan tersendiri bagi masyarakat yang memeluk agama Islam. Indonesia yang berideologikan Pancasila (demokrasi) memberikan otonomi penuh kepada masyarakatnya untuk memeluk agama yang ia yakini dan kebebasan kepada setiap pemeluk agama untuk merayakan hari besarnya dengan tanpa larangan pemerintah sejauh itu tidak merugikan agama lain dan tidak bermaksud untuk merendahkan agama lain. Meskipun pernah ada tulisan yang menyinggung tentang Pancasila, disana dikatakan berpedoman pada Syariat Islam tetapi mengakui Pancasila, pasti sulit. Kemudian ada  juga tulisan yang berbunyi “Pola Orde Baru Pojokkan Islam” Amin dalam Suara Hidayatullah (1999) tetapi semua itu seolah terbayarkan oleh tingkat kerukunan yang masih terlihatpada masyarakat Muslim Indonesia. Dan meskipun di Indonesia mayoritas Muslim, tetapi umat Muslim tersebut memiliki perbedaan dalam kehidupannya masing-masing. Geertz, 1960 (dalam Harun Nasution & Azyumardi Azra) mengatakan sekitar 90 persen umat Muslim yang ada di Indonesia memiliki perbedaan dalam iman dan cara pandang hidup. Beliau berkata dalam jumlah itu yang besar adalah Muslim Abangan, terutama yang tinggal di Pulau Jawa,  yaitu yang mendapat pengaruh hal-hal mistik Jawa dan pengaruh Hindu-Buddha yang tidak tampak. Begitulah banyaknya macam-macam perbedaan Islam yang ada di Indonesia, Max Weber, 1994 (dalam Ajat Sudrajat) bahwa apabila membahas kondisi Islam yang ada di Indonesia akan dihadapkan pada kesatuan teologis diantara penganut-penganutnya. Artinya akan dihadapkan pada sebuah variasi tingkatan umat Islam yang ada di Indonesia terhadap penghayatan keagamaan yang berbeda-beda.
            Memang ketika lihat Islam di Indonesia sangat dipengaruhi budaya setempat, misalnya Islam yang ada di Jawa sangat dipengaruhi oleh agama Orang Jawa sendiri yang diwarnai dengan hal-hal mistik sehingga sering disebut Islam Kejawen. Akan berbeda halnya dengan Islam yang ada di daerah lain akan dipengaruhi juga oleh kebudayaan setempatnya. Tetapi meskipun banyak sekali perbedaan itu Islam di Indonesia dipengaruhi oleh Ideologinya yang berlandaskan Pancasila yang mengutamakan musywarah dalam menentukan kesepakatan bersama.  Islam di Indonesia memiliki peranan besar dalam dunia pemerintahan, misalnya Pancasila point pertama yang didasarkan pada Syariat Islam meskipun  sempat diganti dengan Tuhan Yang Maha Esa tetapi kontribusi Islam dalam perumusan Pancasila itu tidak bisa dilupakan begitu saja. (Amien Rais, 1991) Islam sebagai agama wahyu bagi setiap Muslim menjadi sebuah kerangka acuan paripurna untuk seluruh kehidupannya. Kata-kata itulah yang menginspirasi prilaku-prilaku lainnya bahwa Islam tidak hanya sebatas ibadah kepada Allah tetapi juga mempunyai cakupan yang mnyeluruh.
            Bahkan Belanda pernah menggunakan Islam Politiek dalam menangani masalah yang ada di Aceh pada waktu itu dengan dikirimkannya Prof. Snouck Horgronje. Islam menjadi sebuah senjata Belanda yang beupaya menaklukkan Aceh. Dalam buku “Politik Islam Hindia Belanda”  karya Aqib Suminto dijelaskan bahwa sebelum Islam Politik itu dilaksanakan, kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda terhadap Islam hanya berdasarkan pada rasa takut dan tidak mau ikut campur, dikarenakan waktu itu Belanda belum banyak mengetahui tentang Islam secara mendalam.  Max Weber,1991 (dalam Bryan S. Turner) berpendapat tentang kebudayaan-kebudayaan dan pengkajian Islam terlantarkan, dilain pihak kepustakaan agama-agama lain yang sudah mapan dan berkembang secara sistematik. Tetapi saat ini berbeda dengan perkataan Max Weber waktu itu, sekarang Islam lebih dinamis dan sudah mulai bisa diterima oleh penduduk dunia , bisa dilhat dari tabel persentase umat Muslim diseluruh duia dalam bukunya Mir Zohair Husain “Islam and The World”. Dalam buku itu terdapat umat Muslim di negara-negara didunia meskipun masih menjadi agama minoritas di beberapa negara, misalnya AS (2.2%), Portugal (0.1%), Bulgaria (12.2 %), Israel (14.6%), Jerman (3.7%), Austria (4.2%), Belanda (4.4%). Tetapi di bagian negara lainnya Islam menjadi agama mayoritas seperti Maldives (100%), Algeria (99%), Sahara Barat (100%), Turki (99%), Qatar (95%), Afganistan (99%). Sedangkan di Indonesia sendiri sebanyak 88 persen, tetapi saat ini di Indonesia mungkin sudah melebihi jumlah itu.
            Meskipun begitu adanya, di Indonesia sendiri terkadang Islam disekuleriasikan dengan urusan kehidupan berbangsa. Yudilatif (2007) mengatakan serbuan kolonialisme, baik di seluruh dunia Islam maupun secara khusus di kepulauan Nusantara, dengan kepentingan untuk melucuti peran sosial-politik Islam. Menurut Abu-Lughoud, 1967:39 (dalam Yudilatif) mengatakan upaya untuk mengahalu Islam dari ruang public berarti penolakan terhadap premis-premis orisinal dari sistem politik yang berbasis keagamaan. Jikalau ini terjadi akan menjadi sebuah awal dari sekulerisasi politik (Smith, 1970: 10 dalam Yudilatif).
Islam di Negara Liberalis: Islam di Amerika Serikat
            Sebagai negara maju dan merupakan negara adidaya, Amerika menjadi salah satu tujuan penduduk dunia untuk berimigrasi kesana. Semenjak berakhirnya Perang Amerika, penduduknya banyak berinteraksi dengan rasial, etnis, dan keberagaman religi sebagai emansipasi, menjadi wilayah ekspansi imigrasi penduduk dunia.  Dalam Mir Zohair Husain (2006), Inayat Khan salah seorang ahli sufi datang ke Amerika pada 1910, awal ia melihat keberagaman warna kulit yang berbeda ditambah stigma latar belakang sebagai Islam. Tetapi beberapa tahun kemudian, penduduk India Utara banyak berimigrasi ke AS untuk mencari peluang usaha. Pada tahun 1920, Mr. Aijian seorang Misionaris Kristen Amerika Armania mengadakan sensus di Chicago bagi Muslim yang berimigrasi ke AS. Fenomena tersebut juga mendorong penduduk Muslim untuk berimigrasi ke AS, berikut ini data persentase Laki-laki dan Perempuan Muslim yang berimigrasi ke AS:

Table: Number and Percentage of Male / Female Immigration from Regions with Large Muslim Populations Between 1899 and 1910

Nomor
Persen (%)
Etnik
Laki-laki
Perempuan
Laki-laki
Perempaun
Indian
5,763
113
98.0
20
Turki
12,476
478
96,3
3,7
Syria
38,635
18,274
67,9
32,1
Total
56,784
18,865
75,1
24,9
Source: “Report of the Commisioner General of Immigration” ini Report of the Departement of Labour, 1920 (Washington DC. Government Printing Office, 1921).

                        Menurut Mir Zohair Husain (2006) pada awal abad 20, AS menjadi tempat tinggal bagi satu juta umat Muslim. Data-data jumlah Islam yang ada di Amerika bisa dibilang banyak dan memiliki keberagaman etnis yang ada di dunia, hanya saja dalam tabel itu ditampilkan jumlah imigrasi yang paling banyak.
            Amerika sebagai negara yang berideologikan Liberalisme yang mengutamakan kebebasan individu akan memengaruhi pola piker masyarakatnya, khususnya Muslim, yang ada disana. Disana yang mempunyai keadaan indivisualisme tinggi berdampak pada individu Muslim yang merasa minoritas dan sulit untuk menjalin dengan bebas antara sesame Muslim. Keadaan tersebut pun memengaruhi pada prilaku mereka dalam beribadah sesame manusia, karena mereka minoritas dan masyarakatnya individualis tidak akan semudah menebar senyum di Indonesia. Dan pepergianpun akan lebih hati-hati dan dilingkupi rasa takut karena takut jikalau ada orang yang menuduhnya sebagai teroris. Apalagi sampai ada pemberitaan dalam majalah Suara Hidayatullah (2005) tentang pelecehan Al-qur’an oleh tentara AS di penjara Buantanamo.
                        Dalam sebuah majalah Suara Hidayatullah (2007) HAM di Amerika seakan menjadi agama baru yang menjadi pedoman hidup manusia, ini merupakan sikap kelanjutan dari Sitem Liberalisme. Untuk mengokohkan posisi HAM sebagai peraturan Internasional dan Universal. Jadi AS memposisikan HAM sebagai sesuatu yang harus di penuhi dan dihargai oleh setiap masyarakat dan menjadikannya sebagai seolah keyakinan terbaru. Ini disebabkan pula oleh arus Sekularisme, Liberalisme, dan Pluralisme di negeri itu (Suara Hidayatullah, 2005).
                        Tentang Ramadhan sendiri, Jane I. Smith (2005) mengatakan banyak pengamat dan ahli teologi Muslim yang telah berpikir, berbicara, dan menulis mengenai puasa Ramadhan  selama berabad-abad terkahir menyatakan bahwa puasa memiliki beberapa manfaat. Selain itu cara pemaknaan dan perayaannya pun berbeda, contohnya cerita dari seorang ibu Muslim yang tinggal di Chicago yang menagatakan “Sewaktu penulis tumbuh besar di Pakistan, kami tak pernah menganggap Ramadhan sebagai bulan kelahiran kembali ke fitrah, melainkan lebih pada semacam festival budaya. Merupakan hal yang baik saat para remaja kami disini (AS) menantang kebiasaan lam dan memikirkan Ramadhan dari perspektif baru” (dalam Jane I. Smith). Ini menandakan perbedaan pemaknaan tentang Ramadan di Amerika dan Pakistan, di Pakistan seolah-olah hanya sebagai festival budaya berbeda dengan di Amerika yang memandangnya dari perspektif baru.
            Muslim di AS saat ini jauh lebih baik dan tidak selalu dituduh teroris oleh masyarakat disana berbeda dengan pasca peristiwa WTC (2001) yang sempat menggemparkan dunia dan munculnya Islamophobia sampai-sampai di PNG (dalam Suara Hidayatullah), Asosiasi Penginjilnya meminta agar pemerintah melarang Islam masuk PNG. Bahkan pernah terjadi juga sentimen anti Islam meningkat di AS yang diceritakan dalam sebuah majalah Suara Hidayatullah (2005), disana diceritakan juga sampai ada perlakuan yang tidak manusia di Uzbekistan yaitu pembantaian aktivis Muslim.
Islam di Negara Komunis: Islam di Rusia
            Penulis pernah membaca tentang Islam di Rusia dalam http://id.wikipedia.org/wiki/ yang menyatakan bahwa Islam di Rusia adalah agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks, yakni sekitar 21 - 28 juta penduduk atau 15 - 20 persen dari sekitar 142 juta penduduk. Dan ada peristiwa penting dalam sejarah pemerintahan Rusia, untuk pertama kalinya pemimpin Rusia (Vladimir Putin) memasukkan menteri Muslim dalam kabinetnya dan mengakui eksistensi Muslim Rusia.
       Diuraikan juga sejarah Islam di Rusia dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Rusia  bahwa Muslim pertama di wilayah Rusia terkini adalah masyarakat Dagestani di (kawasan Derbent) selepas pentaklukan Arab (abad ke-8). Negeri Muslim yang pertama adalah Volga Bulgaria pada tahun 922. Kaum Tatar mewarisi agama Islam dari negeri itu. Kemudian kebanyakan orang Turki Eropa dan Kaukasia juga menjadi pengikut Islam. Islam di Rusia telah mempunyai kewujudan yang lama, melebarkan penaklukan kawasan Volga Tengah pada abad ke-16, yang membawa orang Tatar dan berkenaan Orang Turki di Volga Tengah ke dalam negeri Rusia. Pada abad ke-18 dan ke-19, taklukan Rusia di Caucasus Utara membawa orang-orang Muslim dari kawasan ini-- Dagestan, Chechen, Circassia, Ingush, dan lain-lain ke dalam negara Rusia. Kievan Rus juga telah dapat kesempatan untuk memeluk Islam dari misionaris Volga Bulgaria, tetapi orang Slavia Timur menerima agama Kristen.
         Mayoritas Muslim di Rusia mengikuti ajaran Islam Sunni. Dalam beberapa kawasan, terutama di Dagestan dan Chechnya, ada tradisi Sufisme, yang diwakili oleh tarekat Naqsyabandi dan Shazili dipimpin oleh Shaykh Said Afandi al-Chirkawi ad-Daghestani. Amalan sufi memberikan orang Kaukasus semangat kuat untuk menolak tekanan orang asing, dan telah menjadi legenda di antara pasukan Rusia yang melawan orang Kaukasus pada zaman Tsar. Orang Azeri juga pada sejarah dan masih lagi pengikut Islam Syiah, disaat republik mereka terpisah dari Uni Soviet, banyak orang Azeri yang datang ke Rusia untuk mencari pekerjaan. Qur'an pertama yang dicetak diterbitkan di Kazan, Rusia pada 1801. Satu lagi fenomena yang terjadi adalah gerakan Wäisi.

            Rusia sebagai tempat tinggal mayoritas kedua bagi penduduk Muslim yang ada disana tentunya dipengaruhi oleh ideologi  yang dijalankan disana, sebagai negara yang berideologikan Komunis yang mengedepankan perjuangan terhadap status dalam tingkatan dan penghapusan segala bentuk tingkatan yang ada dalam masyarakat. Memengaruhi kebiasaan umat Islam melakukan kebiasaannya dalam beribadah, karena sikap pemimpinnya yang otoriter dan diktator yang menjadi sebuah tantangan bagi Muslim yang ada disana. Sistem Pemerintahan yang otoriter akan memberikan harga mati bagi rakyatnya untuk selalu tunduk pada aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.             Disini gerak rakyat dibatasi oleh segala peraturan pemerintah, jikalau peraturan tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam masih sah-sah saja. Tetapi berbeda lagi ketika peraturan itu bertentangan dengan keyakinan orang Islam, misalnya peraturan pemerintah Rusia melarang anak perempuan memakai jilbab ke sekolah atau pelarangan memakai jilbab bagi perempuan Rusia apabila hendak keluar rumah.  Tentu saja ini akan menjadi sebuah tantangan besar yang harus dihadapi oleh Muslimah Rusia. Sehingga inilah akan berdampak pada perbedaan prilaku Islam di Rusia yang akan lebih memerhatikan peraturan yang berlaku di negaranya dengan kewajibannya sebagai seorang Muslimah. Berbeda dengan Islam di Indonesia dengan Sistem Pemerintahan Demokratis, yang membolehkan segala sesuatu asal tidak itu hasil dari musyawarah dan menjadi sebuah kesepakatan bersama.
Pengaruh Ideologi Terhadap Agama
            Agama sebagai sebuah keyakinan yang dimiliki oleh orang yang meyakininya menjadi sebuah pedoman hidup yang tidak bisa ditawar lagi untuk dilanggar atau untuk ditinggalkan. Dari uraian panjang diatas tentang Islam di Indonesia, Rusia dan Amerika menyadarkan bahwa suatu keyakinan sekalipun akan dipengaruhi sedikit banyaknya oleh Sistem Pemerintahan yang berlaku di negara tersebut. Tadi sudah dijelaskan tentang perbedaan kebiasaan dan pengalaman yang dihadapi oleh umat Islam yang berada di negara dengan ideologi yang berbeda. Pada saat negara-negara Industri maju, mereka menguasai berbagai ilmu pengetahuan yang dikuasainya sedangkan negara Islam hanya sebagai konsumen dan bidang sosial budaya, masyarakat Muslim di masuki pemikiran dan gaya hidup masyarakat barat yang permisif yang serba membolehkan sesuatu untuk dilakukan tanpa melihat hal tersebut itu baik atau tidak untuk dilakukan.  Tetapi berbeda dengan saat ini pertumbuhan Islam memperlihatkan kearah yang positif yaitu terus menerus bertambah jumlahnya, contohnya di Amerika pada tahun 1899 dan 1910 sekitar ribuan tetapi pada awal abad 20 sudah menjadi sebuah rumah bagi satu juta Muslim. Di Rusia juga Islam menjadi agama mayoritas kedua dan di Indonesia sendiri menjadi agama mayoritas. Ini menandakan bahwa Islam sudah masuk ke dunia Barat dan tidak lagi sebagai asing yang dimasuki pemikiran dan gaya hidup Barat tetapi lebih daripada itu orang Islam bisa menjadi aktor dalam memengaruhi pemikiran dan mengembalikannya pada ajaran yang berlaku dalam Islam. Hal ini juga bukan berarti tanpa kendala yang dihadapi oleh ketiganya, mereka masing-masing menghadapi tantangan yang berbeda-beda.
            Dalam sebuah majalah Suara Hidayatullah (2007) pernah ditulis tentang keadaan dimana di Eropa pernah terjadi yang namanya Demam Islamophobia, Pusat Monitoring Eropa atas Rasisme dan Xenophobia menunjukkan terjadinya skala Islamophobia di Uni Eropa. Hasil penilitian setebal 117 halaman juga menunjukkan kecurigaan terhadap agama khsususnya Islam di Eropa. Dikatakan juga padahal kaum Muslimin dikawasan Eropa mencapai tiga belas juta orang. Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, pernah menyatakan adanya toleransi namun tidak berdampak apa-apa. Kebencian terhadap rasa dan agama, terutama Islam, di Eropa terus berlangsung. Tetapi saat ini Islam menjadi sebuah motor Islam moderat yang menjadikan segala sesuatu memperhatikan kalangan bawah dan pada urusan paling bawah, misalnya pada urusan dibolehkannya pemakaian jilbab ke sekolah dengan bebas.
            Islam sebagai suatu pedoman hidup bagi pemeluknya memiliki cita-cita tinggi dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Dalam sebuah buku “Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim” karya Ziauddin Sardar (1991) disebutkan apabila ingin mencapai cita-cita yang di impikan harus memiliki pengetahuan yang detail mengenai lingkungan masa kini dan pengetahuan yang cukup mengenai masa depan. Pertama, memererlukan penilaian realistis menyangkut sumber-sumber yang ada di bumi, anatara lain sumber daya manusia, fisis, alam, finansial, informasi dan organisasi. Tanpa ada gagasan yang nyata menyangkut gagasan sumber-sumber yang dimiliki, maka mustahil dapat mererncanakan masa depan secara konstuktif.

Kesimpulan
            Ideologi sebagai suatu pedoman hidup seseorang mempunyai kaitan dengan sebuah keyakinan dalam diri seseorang yang diwujudkan dalam perilakunya menjalankan peraturan dalam agama yang dipeluknya. Agama Islam yang sudah menjadi agama mayoritas di beberapa negara mempunyai perbedaan dalam iman maupun penghayatan terhadap agama yang dipeluknya. Tidak hanya itu agama bisa dipengaruhi oleh kebudayaan setempat, seperti di Indonesia sendiri yang masyarakatnya masih memercayai hal-hal mistik, agama itu sendiri seolah dicampuradukan kedalam sebuah keharmonisan tanpa menghilangkan esensi agama itu.
            Bukan dari segi budaya lokal saja yang bisa memengaruhi kebiasaan dalam menjalankan agama, ideologi pun bisa memengaruhi suatu kebiasaan menjalankan syariat beragama. Selain itu juga ideologi juga memengaruhi gerak seorang pemeluk agama untuk bebas / tidaknya dalam menjalankan syariat Islam. Karena ada ideologi yang memegang penuh kebebasan warga negara harus menuruti apa yang sudah menjadi peraturan si pemimpin. Sejauh peraturan pemerintah pada Sistem Pemerintahan Otoriter tidak mengganggu seseorang untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang Muslim, sah-sah saja untuk diikuti. Tetapi beda lagi ceritanya jikalau peraturan yang pemerintah keluarkan sangat bertentangan dengan Syariat Islam, maka itu akan menjadi sebuah boomerang bagi pemeluk agama Islam yang tinggal didaerah tersebut. Berbeda dengan pemeluk agama Islam yang berada di negara Demokrasi yang semua kedaulatan berada di tangan rakyat, jadi rakyat mempunyai kebebasan penuh untuk berbuat apa yang disukai sejauh itu tidak meerugikan orang banyak.

Keterbatasan
            Review Artikel ini bertujuan dan berusaha untuk menyampaikan topik secara mendalam tentang pengaruh Ideologi suatu negara terhadap Agama Islan yang ada di negara tersebut kepada pembaca. Tetapi masih banyak sekali kekurangan terutama dalam pendalaman topiknya yang masih dangkal dan pembahasan Islam yang ada di Rusia, karena mengingat masih sulitnya mencari sumber rujukannya. Banyak buku atau sumber rujukan lainnya yang hanya memfokuskan pada Islam di Negara yang di maksud secara umumnya saja, sehingga penulis kekurangan literatur yang tepat dalam menunjang pembahasan topik  ini secara mendalam lagi. Kemudian  rujukan yang di pakai masih mengandalkan dari internet dan beberapa buku yang menunjangnya.


Daftar Pustaka
Aluf wahid, 2013. Islam di Rusia Struggle Islamism and Communism. Available at: http://regional.kompasiana.com/2013/08/26/islam-di-rusia-struggle-islamism-and-communism-586499.html.
Anon, 2009. Apa itu Ideologi ? (bahasan teoritis). Available at: http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/16/.
Anon, 2012a. Geliat Islam di Eropa Barat 2. Available at: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/10/17/mc1gcf-geliat-islam-di-eropa-barat-2.
Anon, 2012b. Islam Agama Nomor Satu Terbesar Di Belanda. Available at: http://senyumislam.wordpress.com/2012/05/15/islam-agama-nomor-satu-terbesar-di-belanda/ .
Anon, 2012c. ISLAM AKAN MENJADI AGAMA TERBESAR DI DUNIA,NAMUN BELUM TENTU DI INDONESIA. Available at: http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html.
Anon, 2010. Islam Berkembang Pesatnya di Eropa dan Amerika. Available at: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/10/07/28/127108-islam-berkembang-begitu-pesatnya-di-eropa-dan-amerika.
Anon, 1962. Liberalism in America: A Note for Europeans oleh Arthur Schlesinger, Jr. (1956) from: The Politics of Hope (Boston: Riverside Press, 1962). Available at: http://www.writing.upenn.edu/~afilreis/50s/schleslib.html.
Anon, 2012d. Macam - Macam Ideologi Beserta Negara Penganutnya. Available at: http://imamgakure.blogspot.com/2012/07/komunisme-komunisme-adalah-paham-yang.html .
Anon, MACAM-MACAM IDEOLOGI DI DUNIA. Available at: http://answers.yahoo.com/question/index?qid=20100124034137AAaUFeW.
Anon, 2012e. Muslim Meningkat, Amerika Bukan Lagi Mayoritas Kristen. Available at: http://www.voa-islam.com/lintasberita/hidayatullah/2012/10/12/21127/Muslim-meningkat-amerika-bukan-lagi-mayoritas-kristen/.
Anon, 2013a. Perkembangan Islam di Amerika Serikat dari Masa ke Masa. Available at: 14. http://www.rimanews.com/read/20130423/99918/perkembangan-islam-di-amerika-serikat-dari-masa-ke-masa.
Anon, 2013b. Sekian Lama Terkungkung Muslim Rusia Kini Menikmati Ramadhan. Available at: 25. http://www.republika.co.id/berita/video/umat/13/07/21/mqakpb-sekian-lama-terkungkung-Muslim-rusia-kini-menikmati-ramadhan.
Anon, 2012f. Susahnya Muslim Hidup di Negeri Komunis. Available at: http://enkripsi.wordpress.com/2012/12/10/susahnya-Muslim-hidup-di-negeri-komunis/.
Anon, 2013c. Umat Islam Terus Meningkat, Rusia Diprediksi Akan Jadi Negara Muslim. Available at: http://www.bersamadakwah.com/2013/05/umat-islam-terus-meningkat-rusia.html.
Bassiri, K.G., 2010. A History of Islam in America, from the new world to the new world order, Cambridge: Cambridge University Press.
BKB Nurul Fikri Paledang Bogor, Modul Belajar Ronin IPS: Perpecahan di Yugoslavia. , pp.344–345.
Darban, Drs. Ahmad Adaby (dalam Suara Hidayatullah: Akbar, C. dan D., 2005. Urus Sekulerisme, Liberalisme dan Pluralisme Menggrogoti Muhammadiyah.
Fatimah, N.A., 2013. Sebanyak 20 % dari Total Muslim di Amerika adalah Mualaf. Available at: http://m.detik.com/ramadan/read/2013/08/05/183236/2324735/631/.
Heijer, J.D.& S.A., 1993. Islam, Negara dan Hukum, Jakarta: INIS.
Heri Ruslan, 2012. Jumlah Muslim di AS Meningkat Tajam. Available at: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/03/m3epi9-jumlah-Muslim-di-as-meningkat-tajam.
Husain, M.Z., 2006. Global Studies: Islam And The Muslim World, USA: Mcbraw-Hill Companies / Contemporary Learning Series. Dubuque.
Nasution, H., 1986. Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press.
Nasution, H.& A.A., 1985. Perkembangan Modern dalam Islam, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Noer, D., 1988. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Jakarta: LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan & Penerangan Ekonomi dan Sosial).
Rais, M.A., 1991. Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta, Bandung: Mizan.
Sardar, Z., 1991. Rekayasa Masa Depan Peradaban Muslim, Bandung: Mizan.
Sardar, Z., 1988. Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, Bandung: Mizan.
Smith, J.I., 2005. Islam di Amerika, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Suara Hidayatullah, 2007. Naba’: Papua New Guinea, Modal Semangat 2000 Orang. , p.34.
Suara Hidayatullah, 1999. Syariat Islam Tapi Mengakui Pancasila, Pasti Sulit.
Suara Hidayatullah: 38. Akbar, C., 2005. Amerika Serikat: Pelecehan Al-Qur’an Oleh Tentara AS di Penajara Buantanamo. , p.92.
Suara Hidayatullah: Akbar, C., 2007. Eropa: Demam Islamofobia. , p.22.
Suara Hidayatullah: Akbar, C., 2005. Uzbekiztan: Islam Karimou Membantai Aktivis Muslim. , p.92.
Suara Hidayatullah: Al Qhardawi, Y., 1999. Di Mentawai Islam di Semai. , p.74.
Suara Hidayatullah: Almahira, 2007. Mewarnai Dunia dengan Ilmu. , pp.9–21.
Suara Hidayatullah: Amiera, D., 2005a. Amerika Serikat: Sentimen Anti Islam Meningkat. , p.92.
Suara Hidayatullah: Amiera, D., 2005b. Jerman: Generasi Mudanya Makin Akrab dengan Islam. , p.93.
Suara Hidayatullah: Amin, 1999. Pola Orba Pojokkan Islam. , p.24.
Suara Hidayatullah: Fauziyah, A., 2007a. -.
Suara Hidayatullah: Fauziyah, A., 2007b. -. , p.10.
Suara Hidayatullah: Fauziyah, A., 2007c. -.
Suara Hidayatullah: Suharto, D.E., 2005. Ada Kesalahan Epistemologi yang Serius Dikalangan Umat Islam. , pp.39–45.
Suara Hidayatullah: Wahono, U., 2007. Model Masyarakat Madinah: Bukan Masyarakat Malaikat. , p.22.
Suara Hidayatullah: Wibowo, B., 2005. Naba’: Wajah Angkara Cina di Xinjiang. , p.90.
Sudrajat, D.A., 1994. Etika Protestan dan Kapitalisme Barat, Relevansinya dengan Islam di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara.
Suminto, H.A., 1985. Politik Islam Hindia: Het Kantoor Voor Inland Schezaken, Jakarta: LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial).
Surya, M.A. dan F.K., 2013. Dahsyatnya Kebangkitan Islam Rusia, Geliat Islam Di Rusia: Catatan Diplomat Indonesia. Available at: http://suar.okezone.com/read/2013/06/03/285/816494/redirect#sthash.jqKVhliX.dpuf .
Syukri, I., 2012. Amnesty: Muslim di Eropa Terdiskriminasi Jurnal Nasional. Available at: Amnesty: Muslim di Eropa Terdiskriminasi Jurnal Nasional.
Turner, B.S., 1991. Sosiologi Islam: Suatu Telaah Analisis Atas Tesa Sosiologi Weber, Jakarta: CV Rajawali.
Yudilatif, 2007. Dialektika Islam: Tafsir Sosiologis Atas Sekularisasi dan Islamisasi di Indonesia, Yogyakarta & Bandung: Jalasutra.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

I'm coming